ISLAM, SMART SOLUTION
AGAMA
Pada kenyataannya agama didunia pada saat ini yang terlihat dari dulu sampai sekarang yang telah dipraktekkan oleh orang-orang (yang beragama) berbeda-beda, mengikuti pemahamannya masing-masing. Kebanyakan orang paham terhadap agama hanya sebatas praktek formal cara pengabdiannya terhadap Tuhannya. Batasan-batasan hasil pemahamannya itu seolah-olah menyempitkan terhadap gerak (kreativitas) manusia yang diformalkan dengan bahasa halal atau haram, iming-iming ganjaran dan menakutinya dengan siksaan yang digambarkan dengan surga dan neraka.
Dari hasil pemahaman tadi, suka diartikan bahwa itulah yang dinamakan agama, padahal pemahaman itu semua merupakan isi dari agama itu sendiri (esensi agama yang universal), berarti secara langsung arti agama itu sendiri belum sampai pada esensi agama itu sendiri. Efek dari pemahaman yang farsial tersebut, maka kehadiran agama di dunia ini belum terasa kegunaan dan manfaatnya untuk menjawab masalah-masalah kehidupan ysng semakin merajalela di dunia ini. Berdasarkan dari pemahaman tersebut, akan timbul dari hati sanubari setiap manusia yang beragama yang menggunakan akal dan pikirannya untuk mengajukan pertanyaan yang sangat pundamental "Apakah benar yang disebut agama itu yang demikian?"
Apabila kita melihat keadaan sebelumnya, ketika agama turun kealam dunia ini, semua agama diturunkan dari keadaan masyarakat yang sangat sulit dalam menghadapi persoalah hidup, baik yang berhubungan dengan masalah bathin manusia (ruhani) atau lahirnya (jasmani). Buktinya bisa kita teliti dari sejarah Nabi dan para Aulia ketika menyebarkan agama, bahwasannya mereka tidak langsung memberikan praktek-praktek cara mengabdikan kepada Tuhannya, akan tetapai mereka memberikan jurus-jurus untuk menjawab persoalan sosial kemasyarakatan dari pada memberikan jurus-jurus cara mengabdi (ritual ceremonial) kepada Tuhannya.
Contoh yang nyata ketika Nabi Muhammad baru mengembangkan agama islam, Nabi tidak langsung menyuruh untuk mengerjakan shalat, puasa, menunaikan haji kepada umatnya pada waktu itu, tetapi Nabi langsung menyuruh untuk berbuat baik terhadap sesama, baik budi, bermasyarakat/ menjalin kebersamaan ( walaupun dengan yang bukan dari umat muslim), dan banyak lagi contoh-contohnya yang lain yang berhubungan dengan praktek-praktek sosial kemasyarakatan yang dicontohkan oleh Nabi untuk jadi cerminan kepada para sahabatnya juga kepada semua umatnya.
Berdasarkan pada kenyataan sejarah tersebut sangat munasabah, bilamana para ahli mengartikan agama sebagai berikut yaitu :
وضع الهي سائق لذوى العقول باختيارهم اياه الي الصلاح في الحال والفلاح في المال
Artinya : " Satu aturan Tuhan yang mendorong jiwa manussia yang berakal untuk memegang teguh aturan Tuhan oleh keinginannya sendiri (tidak ada unsur paksaan) untuk menyampaikan kepada kemaslahatan hidup di dunia dan kesenangan di akhirat."
ISLAM
Kata islam berarti tunduk atau pasrahاسلم – يسلم – اسلاما , agama islam sudah ada dari zaman NAbi Adam AS. Pemahaman terhadap islam yang kita ketahui hanya sebatas bagaimana kita mengabdi (ritual/penghambaan) kapada sang Pencipta. Padahal kepasrahan kita terhadap Tuhan tidak hanya terbatas pada peribadatan ritual belaka melainkan seluruh aktivitas kita, kalau kita menyadarinya itupun sudah termasuk ibadah, sebagai contoh, ibadahnya seorang pedagang dia harus benar dalam hal berdagang tidak ada unsur merugikan kepada para pembelinya, kalau dia seorang pengusaha, dia harus menjadi pengusaha yang baik tidak ada kelakuan sikut kanan-sikut kiri, kalau dia menjadi seorang tenaga pendidik, dia harus menjadikannya lahan pendidikannya sebagai wahana untuk mendekatkan dirinya kepada Tuhan, kalau dia seorang birokrat, dia harus menjadikan kajian birokrasinya untuk kemajuan umat yang dipimpinnya, dan masih banyak contoh-contoh yang lainnya.
Berdasarkan pada pemahamn diatas, kita bisa melihat apa yang dimaksud dari islam itu sendiri?. Terkadang masih banyak orang yang beranggapan bahwa yang namanya islam itu hanya bagaimana kita mengikuti tata cara peribadatan yang diajarkan oleh nabi Muhammad dan diteruskan oleh para aulia. Tetapi ada pertanyaan yang sangat mendasar yang menyangkut keadaan orang-orang diluar orang yang mempunyai peradaban, kalau kita sebagai pengikut atau umat Nabi Muhammad itu karena kita mempunyai orang tua dan para leluhur kita umat islam, itu dullu, masih adanya pengembang agama ysng mensiarkan agama. Kalau kita pertanyakan kembali, yang manakah islam itu sendiri? Sebab kita termasuk islam keturunan, kalau mereka (keturunan orang-orang diluar agama islam) mempertanyakan kembali yang mana yang namanya islam? Kita (islam keturunan dan keturunan diluar islam) mempertanyakan kembali, dilahirkan hanyalah perbedaan dari siapa orang tua kita, kita beragama tanpa melalui proses, jadi yang manakahh islam itu sendiri?.
Kalau kita teliti kembali dan mengajukan pertanyaan bagaimana hukumnya dan kedudukannya apabila ada orang atau kaum primitip, mereka itu belum pernah ketemu dengan orang yang mengenban agama, baik dari agama islam ataupun dari luar agama islam, apabila mereka mati. Apakah mereka disebut orang yang yang muslim? Sebab mereka pasrah dengan ketentuan Tuhan bahwa mereka hidupnya di kaum primitip. Tetapi belum pernah bertemu dengan da'I dari orang yang beragam islam. Ataukah mereka termasuk orang kafir, sebab mereka matinya tidak membawa kalimat tauhid?.
Pemhaman-pemahamn seperti itulah yang menjadikan duri kepada kita kalau kita tidak mampu menuntaskan pemahaman itu, sehingga kita hanya disibukkan dengan ritual-ritual ibadah, dan kurang peka terhadap permasalahan yang menyangkut dengan pemahaman yang sangat mendasar. Apa itu Islam dan apa itu Agama Islam?.
ISLAMISASI / ARABISASI
Pada dasarnya pemaaman kita terhadap islam tidak lepas dari pemahaman kita terhadap dunia arab, sebab pada hakekatnya dunia islam tidak lepas dari budaya arab. Laksana minum kopi, kita tidak bisa membedakan mana kopi, gula, dan airnya. Secara individual kita bisa melihat mana bentuk kopi, gula, dan juga air putihnya. Setelah terjadi penggabungan antara kopi, gula dan airnya, kita akan di buramkan dengan pendapat inilah kopi?, padahal air kopi tersebut sudah bercampur dari tiga komponen tersebut.
Pendapat kitapun akan sama apabila ada yang menyodorkan kepada kita pendapat inilah islam?. Padahal kalau kita teliti lebih mendalam, yang manakah islam?, apakah islam dengan penafsiran islam secara koperehensif atau penafsiran islam secara parsial?. Karena telah terjadi asimilasi antara budaya arab dengan islam (sebab islam diturunkan di arab), kita seakan-akan diburamkan dengan yang namanya inilah produk pemikiran islam. Memang kita akui membedakan antara islam dengan budaya arab laksana kita membedakan atau memisahkan mana kopi, gula, dan airnya, begitu pula dengan mana islam yang diturunkan oleh Allah dan man islam yang dipengaruhi oleh budaya arab.
الر . تلك آيت الكتاب المبين . انا انزلناه قرآنا عربيا لعلكم تعقلون
Artinya : " Alif Lam Ra, inilah ayat-ayat bagi kitab yang nyata. Sesungguhnya kami turunkan dia sebagai bacaan yang berbahasa arab supaya kamu fikrkan."
Pemahaman yang parsial itulah yang menyebabkan kita dipersempit dengan pemahamna kita terhadap esensi islam itu sendiri. Islam pada dasarnya bersifat rahmatan lil 'alamin, sebab islam tidak memandang dari mana ia berasal juga dari suku apa ia didibesarkan.
Pemahaman islam akan timbul dipengaruhi oleh culture dimana ia berada, sebab islam pemahaman islam adalah bersifat universal. Pemahaman yang cenderung mengikatkan islam dengan budaya dimana islam itu diturunkan, akan atau bisa jadi dapat memburamkan kita terhadap apa dan bagaiman islam itu dapat menjadi smart solution bagi kehidupan dimuka bumi.
Pedoman yang telah Allah turunkan kapada Nabi Muhammad (Al-quran), dapat dijadikan sebagai panduan/pedoman hidup, baik dari segi social, maupun semua bidang disiplin ilmu juga sebagai panduan apa, bagaimana dan dimana kita akan tinggal setelah kita mati nanti. Pedoman itu akan kekal dan tidak akan menyesatkan juga tidak akan ada yang dapat menyamainya.
انا نحن نزلنا الزكر وانا له لحافظون
Artinya : " Sesungguhnya kami telah menurunkan Al-quran, dan kami yang menjaga nya."
Pada dasarnya pemahaman seorang muslim pada agama islam bagaimana dia menyandarkan pemahamannya kepada siapa yang mengembannya (pemahaman dalam bentuk).
.....وما اتكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا.....(الحشر 7 (
Artinya : " …….Dan ambillah apa-apa yang telah didatangkan oleh Rasul, adan jauhilah apa-apa yang dicegah dari padanya……."
Maksud dari ayat tersebut adalah kita diharuskan mencontoh apa-apa yang telah diajarkan oleh Rasul dan menjauhi apa-apa yang telah dicegah oleh Rasul, karena buramnya pemahaman kita terhadap mana Rasul sebagai orang arab dan mana Rasul sebagai Nabi bagi para umatnya di muka bumi. Oelh karena itu kita (dalam hal ini kita sebagai orang Indonesia ) yang berbeda kultur dan adapt istiadat denagan Nabi seorang dari orang arab, diharapkan kita bisa nengambil apa-apa yang telah Rasul ajarkan kepada kita berdasarkan budaya kita yang sesuai dengan budaya Indonesia (mengambil esensi islam sebagai Rahmatan lil 'alamin).
العدة محكمة " adapt istiadat bisa menjadi hokum ".
Sabtu, 13 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar