KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, puji syukur kita kepada Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat dan rahmat-Nya kepada kami. Shalawat serta Salam kepada Nabi kita Muhammad SAW yang telah menjadikan bumi ini terang benderang oleh cahaya Iman dan Islam sehingga kami dapat menyelesaikan makalah Mata Kuliah Sosiologi Antropologi Pendidikan tepat pada waktunya.
Tanpa disadari ternyata banyak juga kesalahan dalam mendidik dan membesarkan anak yang sering dilakukan oleh para orang tua. Ironisnya, banyak pula yang tidak menyadari bahwa mereka telah melakukan suatu kesalahan. Sekarang, dalam mendidik dan membesarkan anak khususnya usia pra-sekolah, tidak hanya bertujuan agar anak tumbuh sehat baik jasmani maupun rohani saja. Tapi anak juga harus memiliki kualitas yang lebih bagus. Untuk itu diperlukan beberapa kiat dalam melakukannya.
Akan tetapi kebanyakan para orang tua menganggap bahwa pendidikan dimulai saat anak memasuki usia sekolah. Padahal tidak demikian adanya. Usia pra-sekolah dimulai sejak anak lahir sampai ia dimulai menginjakkan kakinya pada suatu lembaga pendidikan resmi tertentu, baik yang berupa kelompok bermain (play group) maupun Taman Kanak-kanak. Persiapan yang matang sebelum anak mulai memasuki masa sekolah akan sangat membantu keberhasilannya dalam saat mulai memasuki sekolah nantinya.
Akhirnya, kami berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sumbang sarannya yang bersifat konstruktif dalam pembuatan makalah ini.
Karawang, Maret 2007
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ……………………………………………..
DAFTAR ISI ……………………………………………………….
BAB I PENDAHUALUAN ……………………………………….
A. Latar Belakang …………………………………………........
B. Rumusan Masalah …………………………………………..
C. Tujuan ………………………………………………………
D. Manfaat ……………………………………………………..
BAB II DARI LINGKUNGAN HIDUPNYA ANAK BELAJAR …
A. Banyak Hal yang harus Orang Tua Lakukan Setelah Kelahiran
Sang Buah Hati …………….…………………………………
1. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif ………………...
2. Belajar Cara Merawat Bayi …………………………….
B. Sikap Positif Orang Tua terhadap Anak ……………………
1. Sikap Positif dan Perkataan yang Baik …………………..
2. Memanjakan dengan Materi Seperlunya Saja ……………
3. Biarkan Anak Berkreasi …………………………………
C. Fun Learning For Kids (Bermain Sambil Belajar untuk Anak)
1. Komputer ………………………………………………...
2. Non-Komputer …………………………………………..
BAB III KESIMPULAN …………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA ……………………………………………… i
ii
1
1
1
2
2
3
3
3
4
4
4
5
5
6
6
6
8
9
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Lipsitt (dr. Maya Indrawati, 2006 : 3) mengemukakan bahwa "Manusia yang baru lahir merupakan organisme dengan kemampuan belajar efisien, serta semua anak yang dilahirkan memiliki tingkat kecerdasan yang sama". Demikian juga dengan pendidikan anak usia pra-sekolah. Banyak hal yang bisa dan harus dipelajari oleh seorang anak pada usia pra-sekolah. Tapi sayang, banyak orang tua yang tidak menyadari betapa pentingnya pendidikan usia pra-sekolah. Mereka menganggap pendidkan dimulai pada saat anak memasuki usia sekolah.
Usia pra-sekolah dimulai sejak anak lahir sampai dengan ia mulai menginjakkan kakinya pada suatu lembaga pendidikan resmi tertentu, baik yang berupa kelompok bermain (play group) maupun Taman Kanak-kanak.
Demikian pula halnya dengan sikap dan pola asuh orang tua dalam membesarkan anak. Banyak kesalahan yang telah dilakukan namun sayang sedikit sekali orang tua yang mau mengakuinya dan berniat mengubahnya. Walaupun tampaknya kesalahan itu hanya sepele namun tak jarang akan menentukan prilaku dan masa depan anak kelak. Harap diingat, dari lingkungan hidupnya anak-anak belajar.
Pendidikan dan pola asuh orang tua pada 3 tahun pertama kehidupan anak, akan sangat berpengaruh pada 20 – 25 tahun yang akan datang bagi kehidupan anak. Pendidikan dan pola asuh pra-sekolah yang baik akan menghantarkan anak menuju masa depan yang lebih baik. Untuk itu orang tua harus belajar bagaimana memberikan pendidikan dan pola asuh yang tepat bagi anak usia pra-sekolah.
B. Rumusan Masalah
Beranjak dari latar belakang diatas, maka dalam rumusan makalah ini :
1. Bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya setelah proses melahirkan ?
2. Bagaimana sikap positif orang tua kepada anaknya ?
3. Bagaimana Fun Learning For Kids (bermain sambil belajar untuk anak) ?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1. Ingin mengetahui sikap yang seharusnya dilakukan oleh orang tua kepada anaknya setelah proses melahirkan.
2. Ingin mengetahui sikap positif orang tua kepada anaknya.
3. Ingin mengetahui belajar sambil bermain untuk anak (fun learning for kids).
D. Manfaat
Melihat dari fenomena dan kajian diatas, maka dalam pembuatan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :
1. Bagi Penulis : Dapat menjadikan media pendidikan untuk menambah wawasan tentang pendidikan anak usia pra-sekolah.
2. Bagi Pembaca : Menjadikan sumbang pikiran tentang bagaimana seharusnya yang dilakukan oleh para orang tua dalam mendidik anak usia pra-sekolah.
BAB II
DARI LINGKUNGAN HIDUPNYA ANAK BELAJAR
Mempersiapkan generasi yang akan datang (anak) dimulai saat para calon orang tua hendak melangsungkan pernikahan. Anak yang terlahir dari pasangan yang benar-benar memiliki kesiapan mental yang baik untuk menjadi orang tua tentunya memiliki kesempatan yang lebih baik dalam menyongsong hari depan.
Untuk mendapatkan anak yang mempunyai kualitas serta kuantitas yang baik, selain kesiapan mental dari calon orang tua, mereka (calon orang tua) juga harus memiliki yang diantaranya : kedewasaan suami-istri, rajin mengontrol kandungan ke dokter, membiasakan hidup sehat serta hindari depresi yag berlebihan dari calon ibu.
Setelah penantian yang panjang selama sembilan bulan lebih, maka banyak lagi yang harus dilakukan oleh para orang tua. Yang diantaranya :
A. Banyak Hal yang harus Orang Tua Lakukan Setelah Kelahiran Sang Buah Hati
1. Pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif
Banyak penelitian yang membuktikan kehebatan ASI. Caira kehidupan ini ditengarai memiliki kandungan gizi, nutrisi dan antibodi yang paling legkap. Salah satu penelitian yang dilakukan di 6 negara berkembang membuktikan, bayi usia 0-2 bulan yang tidak mendapat ASI eksklusif akan lebih rentan terkena infeksi pencernaan hingga 400 %.
Yang dimaksud dengan ASI eksklusif adalah " pemberian ASI selama 6 bulan tanpa dicampur dengan apapun, termasuk air bening, vitamin dan obat. Apabila sakit dan terpaksa harus diberi obat, berarti sudah tidak mendapat ASI eksklusif lagi". (dr. Maya Indrawati, 2006 :39).
Pemberian ASI secara eksklusif akan memberikan sederet manfaat, antara lain : untuk kesehatan, meningkatkan kecerdasan serta mempengaruhi emosi.
Selain manfaat dari ASI tersebut ada manfaat lain yang dapat diperoleh melalui proses menyusui, yang diantaranya : ketika menyusui, hati dan perasaan ibu juga turut larut dalam ASI yang diminum oleh bayi. Apabila keadaan hati sang ibu sedang tidak tenang ataupun sedang dalam keadaan jengkel terhadap sesuatu hal, maka kondisi hati yang demikian itu juga akan ikut diterima oleh bayi.
Untuk itu ketika sang ibu dalam keadaan emosinya labil, sebaiknya jangan pernah menyusui bayi. Memang bayi akan merasa kenyang, tapi ada yang kurang darinya, yaitu perasaan sang ibu. Oleh sebab itu kendalikan emosi sang ibu manakala mempunyai bayi yang masih dalam menyusui.
2. Belajar Cara Merawat Bayi
Merawat bayi itu gampang-gampang susah. Dikatakan gampang, semua orang tua mampu melakukan merawat bayi tanpa memandang tingkat pendidikan. Dikatakan susah, karena tidak semua orang tua mampu merawat bayinya sendiri. Berbagai alasan akan dikemukakan hanya untuk menutupi kemalasannya dalam hal merawat bayi serta pembenaran terhadap sikapnya itu. Mereka akan menyerahkan segala urusan mengurus bayi kepada pengasuh bayi ataupun kakek-neneknya.
Sebenarnya saat merawat bai itulah kesempatan kepada orang tua untuk lebih dekat dengan bayinya. Anak tentunya akan selalu teringat akan tatapan mata ayah-ibunya yang lembut dan kasih sayang, merasakan kehangatan tangan dan belaian mesra dari orang tuanya, serta mencium wangi tubuh mereka.
B. Sikap Positif Orang Tua terhadap Anak
Sikap positif dalam mendidik dan membesarkan anak haruslah dimiliki oleh orang tua. Orang tua harus berhati-hati menjaga sikap di depan anaknya, sebab anak mempunyai sifat meniru yang sangat bagus. Jangan terlalu berharap memiliki anak yang mau jujur kepada orang tuanya bila orang tua sendiri tidak berprilaku jujur kepada anaknya.
1. Sikap Positif dan Perkataan yang Baik
Kejujuran adalah kunci utama keberhasilan hidup. Namun sayang, banyak orang tua yang menginginkan anaknya untuk berkata dan berlaku jujur, tapi dirinya sendiri tidak berkata dan berlaku jujur kepada anaknya. Kejujuran tidak datang begitu saja, tapi harus diusahakan dan diupayakan melalui kerja keras dan pembiasaan sejak usia dini. Jujurlah dalam setiap kondisi dan keadaan. Jangan pernah menipu anak.
Sebagai contoh adalah menipu anak saat hendak meninggalkannya, untuk ke kantor atau ke tempat kerja misalnya. Sedangkan anak tidak mengijinkan untuk di tinggalkan. Langkah apa yang akan para orang tua tempuh ? Berdiskusi dengan anak atau memilih menipunya dengan cara pergi secara diam-diam?. Cobalah untuk di diskusikan dengan anak bahwa apabila tidak berangkat kerja nanti dari mana orang tua dapat membeli susunya, untuk membeli mainannya, makan sehari-hari dan yang lainnya. Bukan seperti maling di rumahnya sendiri dengan mengendap-ngendap meninggalkan anaknya, lalu anak mengetahui bahwa orang tuanya telah menipunya.
2. Memanjakan dengan Materi Seperlunya Saja
Memanjakan anak dengan materi adalah jalan yang paling mudah agar anak tidak rewel saat di tinggal bekerja, untuk orang tua yang bekerja. Semua jenis mainan dan kesenangannya dibelikan untuk menggantikan peran orang tuanya. Padahal cara itu tidaklah baik. Mengapa ?
Anak yang sejak kecil sudah terbiasa hidup serba kecukupan dan berlimpah harta tidak akan menjadi seorang anak yang tangguh dan siap bekerja keras kelak. Bila segala permintaannya dituruti maka anak akan terbiasa hidup enak, tidak mau hidup bersahaja. Sedangkan roda kehidupan itu selalu berputar. Sekarang mungkin orag tuanya sedang mampu membelikan semua keinginan anaknya, tapi siapa yang bisa menjamin orang tuanya besok atau lusa masih mampu untuk mencukupi kebutuhan anaknya ?
Seyogianya anak sudah dibiasakan untuk hidup sederhana dan tidak berlebihan sejak kecil kecil. Bukannya mengharuskan anak hidup dalam kekurangan, tapi hiduplah dengan sewajarnya.
3. Biarkan Anak Berkreasi
Seorang anak pastilah memiliki jiwa yang sangat kretif, inovatif dan memilki rasa ingin tahu yang sangat tinggi. Mereka selalu ingin mencoba hal-hal yang baru dan merasa sangat penasaran terhadap sesuatu hal. Apa saja yang dia miliki selalu ingin di otak-atik sesuai dengan imajinasinya.
Sayang, jiwa anak yang sedang bereksplorasi terhadap sesuatu justru yang menjadi penghambatnya adalah orang tuanya sendiri.
Sebagai contohnya saat mandi, anak akan dilarang mandi berlama-lama sambil memainkan wadah yang ada di kamar mandi. Cobalah para orang tua tidak hanya melarangnya tapi buatlah sesuatu yang bersifat bermain (mandi) sambil belajar. Sediakanlah berbagai macam wadah yang berbeda bentuk, lantas biarlah anak untuk mengisi wadah tersebut dengan air setelah itu suruhlah anak untuk memindahkan air yang telah diisi tadi kewadah yang lain yang berbeda bentuk. Mengapa setelah airnya dipindahkan tetapi tidak tumpah ? nah disinilah peran orang tua untuk menjelaskan pengetian volume. Walaupun berbeda bentuk namun apabila sama volumenya maka isi air tersebut tidak akan tumpah. Cobalah buat definisi tersebut dengan menggunakan bahasa yang sekiranya anak akan mengerti.
C. Fun Learning For Kids (Bermain Sambil Belajar untuk Anak)
Belajar adalah kegiatan yang paling digemari oleh anak. Tidak ada anak yang tidak suka bermain. Dunia anak adalah dunianya bermain. Melalui bermain anak akan belajar banyak ahal tentang kehidupan. Sekarang menjadi tugas orang tua untuk menciptakan suatu permainan yang juga terdapat unsur pendidikannya.
Terdapat beberapa jenis permainan kretif yang dapat membantu maningkatkan kecerdasan anak yaitu :
1. Komputer
Pinball, minesweeper, tetris dan zuma dapat para orang tua gunakan sebagai alternatif permainan yang berguna juga untuk meningkatkan multiple intelligence anak. Semua permainan itu telah ada pada program komputer, namun apabila sekiranya orang menginginkan game yang lebih bagus lagi dan dapat membuat intellegensi anak meningkat tidak salahnya orang tua menginstall game baru.
2. Non-Komputer
Puzzle, flash card dan berkemah dalam rumah merupakan beberapa contoh permainan yang dapat di pilih oleh orang tua.
Dalam memilih permainan kreatif anak, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a. Hendaknya orang tua paham tahapan-tahapan perkembangan anak, baik secara usia, emosi dan fisiknya
b. Keamana alat permainan
c. Pilih alat permainan yang berwarna kontras dan cerah, untuk merangsang indra penglihatan anak
d. Permainan bersifat interaktif, supaya anak tidak jenuh dan monoton
e. Buat kesempatan anak untukl menang. Dengan begitu anak akan merasa mempunyai rasa percaya diri.
f. Mengandung nilai positif. Dalam permainan juga terselip nilai-nilai positif kehidupan. Tidak boleh berlaku jahat terhadap teman ataupun kejahatan pastilah kalah dengan kebaikan, tema-tema yang bagus seperti itulah yang yang diusung dalam permainan.
BAB III
KESIMPULAN
Anak merupakan " titipan " dari Tuhan. Membesarkan dan mendidik anak dengan hasil yang berkualitas tentunya sesuatu hal yang diinginkan oleh semua para orang tua. Pendidikan dan pola asuh yang bagus dan baiklah yang akan dipilih dan dilakukan oleh para orang tua.
Dengan melakukan pola asuh dan pendidikan yang telah ditanamkan dirumah dengan sistem yang baik, menurut perkembangan usia anak, emosi, serta pertumbuhannya maka akan menghasilkan generasi penerus yang baik pula dan berkualitas. Pendidikan bukanlah dari hasil dibangku sekolah, akan tetapi pendidikan yang sesungguhnya adalah berasal dari lingkungan anak itu sendiri.
Anak, laksana sebuah tanah liat yang akan kita bentuk sesuai dengan bentuk yang kita inginkan. Dengan melalui proses upaya pembentukan yang baik, kitapun akan mendapatkan hasil yang baik. Janganlah kita bentuk tanah liat itu semauhnya, tanpa memperhatikan dan memikirkan hasil akhirnya kelak. Apabila kita salah membuat atau membentuk tanah liat itu, janganlah berharap kita akan mendapatkan hasil yang baik pula.
Seperti dalam sebuah syair berikut ini :
Kuambil segumpal tanah liat. Kubentuk dengan kupijat-pijat. Sementara jemariku menekan. Terbentuklah yang kuinginkan.
Kudatangi beberapa hari kemudian. Tanah liat sudah membatu. Bentuk buatan tanganku masih nampak jelas. …dan aku tidak dapat lagi mengubahnya.
Lalu kuambil tanah liat bernyawa. Sebuah hati bocah lembut dan peka. Dari hari kehari kubentuk dia. Dengan kemampuan daya seni.
Beberapa tahun kemudian. Si bocah telah menjadi orang. Sifat-sifat bentukanku tetap tercermin. ………dan aku tak dapat lagi mengubahnya.
DAFTAR PUSTAKA
Indrawati, Maya. dan Nugroho, Wido. (2006). Serba-serbi Mendidik dan Membesarkan Anak Usia Pra-Sekolah. Jakarta : Prestasi Pustaka.
------ . Defresi Ibu Berefek Buruk Pada Anak.(Online). http: // www. Balita Cerdas. Com. diakses 20 Januari 2007
Minggu, 18 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar